(Bontang, 18 Maret 2019). “Isu strategisnya adalah darurat kekerasan anak di Kota Bontang. Sosialisasi ini digelar sebagai edukasi untuk menyatukan persepsi  rekan wartawan. Bagaimana peran media  dalam mengantisipasi kekerasan terhadap anak, bukan sekadar memberitakan, tetapi mempunyai kewajiban yg sama dengan stakeholder lain untuk memberikan berita yg berpihak kepada anak,” terang Abdu Safa Muha saat ditemui pada Sosialisasi Menuju Media Ramah Anak di Auditorium 3 D pada Senin (18/3) pagi.

Lebih lanjut Safa menjelaskan Pemerintah Kota Bontang telah menunjukkan komitmennya menjadikan Bontang sebagai Kota Layak Anak (KLA) dengan menetapkan regulasi terkait KLA. Hal ini tertuang dalam Perda Kota Bontang Nomor 8 Tahun 2017 tentang Kota Layak Anak.

Senada dengan Safa, Staf Ahli Pembangunan Kemasyarakatan dan Sumber Daya Manusia, Sofiansyah, S.Sos, M.Si yang membacakan sambutan Wali kota Bontang  menyampaikan bahwa untuk menjadikan Kota Bontang sebagai Kota Layak Anak, kita harus bersinergi menjalankan amanat Undang – undang Perlindungan Anak 72 dimana media masa berperan dengan cara penyebarluasan informasi dan materi edukasi yang bermanfaat dari aspek sosial, budaya, pendidikan, agama, dan kesehatan anak dengan memperhatikan kepentingan terbaik bagi anak.

Salah satu cara menjadikan media sebagai media layak anak adalah dengan menyelipkan program kearifan lokal dalam media massa dan media elektronik. Sebagaimana arahan dari narasumber Yovanda Noni dari KPID terkait konten layak anak.

Turut hadir dalam sosialisasi ini beberapa perwakilan OPD,   3 (tiga) Narasumber yaitu Supriyadi Kepala Bidang Partisipasi Media Elektronik dan sosial Kementerian PP dan PA, Ahmad Djauhar Wakil Ketua Dewan Pers Indonesia dan Jovanda Noni, komisioner komisi penyiaran Indonesia daerah kaltim, serta 40 peserta dari insan pers, dan instansi terkait pemberitaan.

PPID Kota Bontang