Jakarta, Kominfo – Menteri Kominfo Rudiantara bersama pekerja seni, influencer, dan penggiat literasi digital meletuskan balon sebagai simbol dukungan dari multipihak terhadap Gerakan Nasional Literasi Digital #Siberkreasi. Gerakan itu digagas untuk memerangi konten-konten negatif di media sosial dalam bentuk hoax dan cyberbullying.

“Yang menjadi concern, Kementerian Kominfo dengan komunitas dan ekosistem mempunyai perhatian yang sama terhadap konten” ujar Rudiantara dalam acara Konferensi Pers Gerakan Nasional Literasi Digital #Siberkreasi di Aula Dewan Harian Nasional 45, Jakarta, Senin (2/10/2017).

Rudiantara menyatakan pembangunan infrastruktur TIK akan terus didorong. “Dari sisi infrastruktur, pemerintah bukannya akan membatasi pembangunan infrastruktur yang bisa dimanfaatkan oleh media sosial, justru pemerintah akan membangun seluruh infrastruktur TIK,” katanya.

Dengan pembangunan infrastruktur TIK, Menteri Kominfo mengimbau semua pihak ikut berperan aktif agar pengelolaan konten berlangsung lebih baik. “Pipanya diperbesar atau kapasitas dan jaringannya diperluas terus tapi konten jika tidak dimanage dengan baik, akan menjadi bumerang bagi kita,” katanya.

Rudiantara menyebut saat ini pertumbuhan atau dinamika teknologi begitu kencang oleh karena itu sudah selayaknya digunakan untuk berbagai hal yang produktif dan bermanfaat. “Kanal banyak dimanfaatkan untuk hal-hal negatif baik hate speech, hoax, cyber bullying. Inilah negara Indonesia negara demokrasi. Kita juga menjunjung yang namanya hak untuk bebas berekspresi padahal di satu pihak kita harus menjaga persatuan dan kesatuan. Jadi ada pertumbuhan atau dinamika teknologi yang begitu kencang,” tambahnya.

Rudiantara mengharapkan gerakan literasi digital melibatkan kerjasama semua pihak. “Inilah kerjasamanya semuanya. Bukan progam pemerintah (Kominfo) saja, tapi ada dari Bekraf, Setneg, dan kalangan perguruan tinggi,” ujarnya.

Sementara itu Ketua Umum Gerakan #SiBerkreasi Dedy Permadi mengatakan Gerakan Nasional Literasi Digital fokus pada penyebaran pengetahuan . Targer kegiatan ini menurutnya mendorong masyarakat menggunakan teknologi dengan bijak dan benar. Dedy pun menyebut salah satu pertimbagnan kemunculan gerakan itu karena adanya kesenjangan muncul antara pembangunan teknologi dengan kurangnya pengetahuan masyarakat untuk menggunakan media sosial dengan baik dan benar.

“Karena ada gap itu maka muncul hal-hal yang membuat kita resah. Di level nasional misalnya hoax, cyber bullying, online radicalism, pornografi, dan lain sebagainya dapat membuat potensi perpecahan di negara,” katanya.

Sementara dalam kehidupan sehari-hari, menurut Dedy banyak balita sekarang yang sudah mulai bergantung kepada gawai. Banyak pula remaja yang menjadi asosial karena terlalu banyak memakai gadget sehingga mereka tidak mau berinteraksi dengan temannya. Bahkan media sosial juga menjadi salah satu penyebab terjadinya perceraian antara suami dan isteri.

“Di level nasional dan level sehari-hari sudah sangat mengkhawatirkan, artinya ini menjadi ancaman real bagi bangsa Indonesia” tandasnya. Dedy juga menegaskan, “Gerakan Nasional Literasi Digital #Siberkreasi itu idenya sebenarnya adalah kerja bersama. Semua komponen masyarakat kerja bareng,” katanya.

Acara tersebut juga dihadiri Pengamat Literasi Digital Independen Nukman Lutfie, Marcella Zalianti, Yosi Mokalu, Marsha Tengker, influencer dan penggiat literasi digital, serta wakil relawan komunitas penggiat literasi digital (Japelidi, RTIK, ID-COP, Mafindo).

Sumber : Kementerian Kominfo RI

Link : https://www.kominfo.go.id/content/detail/10805/kominfo-dukung-gerakan-nasional-literasi-digital/0/berita_satker