(Bontang, 4 Februari 2019). Pesatnya perkembangan teknologi informasi membuat publik semakin mudah mengakses beragam informasi dan berita hanya dalam waktu sekejap. Namun informasi yang tersebar tidak hanya memuat berita benar, berita bohong atau hoaks pun dengan mudahnya ikut menyebar melalui media sosial seperti Facebook, Whatsapp dan lainnya.

Jika tidak ada kehati – hatian, setiap individu pun dengan mudah termakan tipuan hoaks tersebut, bahkan ikut menyebarkan informasi palsu itu, tentunya akan sangat merugikan bagi pihak korban.

“Jangan jadi penyebar hoax. Tingkatan kita sekarang ini adalah selalu mengeshare berita – berita yang belum aktual, dari sisi kebenarannya masih abu – abu,” kata Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Bontang Drs. Dasuki M.Si.

Dijelaskan Dasuki, pembuatan berita hoaks berupa gambar dan tulisan merupakan pesanan dari oknum yang memiliki motif dan kepentingan baik pribadi, ekonomi maupun kekuasaan yang disebar melalui mesin propaganda.

“Dalam hitungan menit, jutaan pengguna Facebook sudah menerima (berita hoax) itu, lalu kemudian di share (oleh penerima). Memang itu tujuannya, kata – kata dan video itu merusak otak kita. Dan mempengaruhi kita untuk mengeshare,” kata Dasuki.

Setelah berita menyebar dan menjadi topik diskusi diruang publik, peran selanjutnya dilakukan oleh BOT (Build Operate and Transfer) atau yang dikenal dengan “robot program” untuk mengatur dan menggiring diskusi publik.

“Yang terakhir ada BOT yang akan mengkomandoi diskusi publik dari video atau tulisan (berita hoax) itu,” lanjutnya.

Tak lupa, ia mengajak warga Kota Bontang khususnya pengguna media sosial untuk melawan hoax dengan metode saring sebelum sharing terhadap berita yang diterima. karena dampaknya bagi kehidupan sosial dan politik sangat destruktif, dapat mengoyak keharmonisan dan menyuburkan tradisi yang buruk di tengah kehidupan masyarakat. “Kata kuncinya, berita itu (hoax) memang sengaja dibuat,” ungkap Dasuki.

Sementara itu, dikutip dari laman https://aptika.kominfo.go.id/2019/01/literasi-digital-ala-milenial-kominfo-rilis-lambe-hoax/ berjudul Literasi Digital Ala Millenial, Kominfo Rilis “Lambe Hoax”. Kementerian Komunikasi dan Informatika RI merilis program Lambe Hoaks dalam upaya memberikan literasi digital pemberantasan konten – konten hoaks.

“Lambe Hoaks akan ditayangkan rutin setiap minggu melalui saluran media utama GPR TV dan akun resmi media sosial Kemkominfo yaitu Youtube KemkominfoTV, Instagram @kemenkominfo, Twitter @kemkominfo, dan Laman Facebook Kementerian Komunikasi dan Informatika,” ujar Plt. Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo Ferdinandus Setu di Jakarta, Kamis (24/01/2019).

Program Lambe Hoaks merupakan kolaborasi antara Biro Humas Kominfo, Tim Aduan Konten Ditjen Aptika dan GPR TV Ditjen IKP. Dibawakan oleh sosok ikonis Miss Lambe Hoaks, program mingguan ini berisi seputar isu hoaks yang meresahkan dan tengah beredar di dunia maya. Dalam setiap episodenya program Lambe Hoax mengupas fakta di balik Top 10 isu hoaks hasil pencarian Tim Aduan Konten Ditjen Aptika yang beredar dalam sepekan terakhir.

Program yang digelar secara rutin ini diharapkan dapat menjadi acuan sumber informasi bagi netizen, khususnya generasi milenial, dalam mengenali dan mengkonfirmasi isu hoaks yang sangat deras beredar di dunia maya saat ini. (AG)

PPID Kota Bontang