3-btg-korea-2Lebih dari 300 orang peserta perwakilan dari 34 kota di seluruh dunia termasuk Indonesia yang diwakili Kota Bontang dan Surabaya. Kedua wakil Indonesia ini diundang untuk hadir pada Forum Internasional guna berdiskusi terkait perubahan iklim di Balai Kota Seoul Korea tanggal 1 – 2 September 2016 kemarin.
Forum disponsori oleh Pemrintah Kota Seoul dan International Council For Local Environmental Initiatives (ICLEI) ini menjadi agenda rutin dari World’s Mayors Forum atau Forum Wali Kota Dunia. Forum ini juga berfungsi sebagai wadah untuk pemerintah kota dan pemerintah daerah menyajikan dan berbagai inisiatif pengurangan gas rumah kaca di wilayah masing-masing serta menetapkan strategi konkret bersama dalam upaya mitigasi dan adaptasi.
Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni turut berpartisipasi dalam Mayoral Session III pada tanggal 1 September 2016 lalu dan menjadi pembicara mengenai topik “Menuju Pembangunan Kokoh yang Rendah Emisi”.
Pada Kesempatan tersebut, Neni menyajikan konsep Bontang sebagai Green City dan berbagai upaya mitigasi dan adaptasi yang telah dan sedang dilakukan di Kota Bontang, seperti konsep Waste to Resources, Waste to Energy, Program Jumat Bersih, penambahan RTH, Rehabilitasi Mangrove serta Terumbu Karang dan berbagai kegiatan lain yang terkait dengan mitigasi dan adaptasi, rehabilitasi lingkungan.
Wali Kota Neni Moerniaeni memaparkan visi pembangunan desalinasi untuk mengatasi krisis air di Kota Bontang yang akan dihadapi pada tahun 2030 mendatang serta pembangunan pembangkit energi terbarukan untuk mengurangi kadar emisi gas CO2 di Kota Taman.
Pada pertemuan tersebut, Neni didampingi suaminya H. A. Sofyan Hasdam yang merupakan pakar lingkungan dan saat ini sedang menyelesaikan program Doktor dalam bidang Lingkungan Hidup. Neni meminta dukungan dari badan-badan lingkungan internasional yang turut mendengarkan presentasi agar memberikan dukungan teknis maupun finansial.
“Kita berusaha meyakinkan negara-negara dan lembaga-lembaga Internasional yang hadir dalam forum ini karena Bontang sudah melakukan upaya mitigasi dan adaptasi. Dan sebagai kompensasinya, kita minta dukungan dari organisasi dan lembaga lingkungan untuk penanganan air bersih di Bontang yang selama ini bersumber dari air bawah tanah sehingga ke depan perlu upaya desalinasi untuk penyediaan air bersih bagi masyarakat,” terangnya.