13737498_1158695494152421_4337796984398809326_o

(Bontang, 26 Juli 2016). Prestasi demi prestasi terus diukir Pemerintah Kota Bontang di bawah kepemimpinan Wali Kota Neni Moerniaeni dan Wakilnya Basri Rase. Pasca dilantik pada 23 Maret lalu, beberapa prestasi telah berhasil diukir. Yakni mendapatkan predikat Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) dari Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) RI dan yang terbaru adalah Piala Adipura Kirana dan Piala Adiwiyata.

Dua penghargaan di bidang lingkungan itu membuktikan jika program pemerintah untuk mewujudkan Bontang sebagai kota industri yang ramah lingkungan pun semakin nyata. Sebelum berkeliling kota mengarak piala, Wali Kota mengaku, Piala Adipura dapat diraih atas kerjasama pemerintah dan warga Kota Taman.

“Alhamdulillah, ini prestasi kita semua. Prestasi warga Bontang. Piala Adipura berhasil kita raih,” kata Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni. Neni juga menjelaskan bahwa pemerintah telah berkomitmen menjadikan Bontang bukan hanya bersih, tetapi dapat menjadikan sampah bernilai ekonomis.

Ini juga kata Wali Kota bentuk kerja keras pemerintah bersama warga Bontang untuk mewujudkan lingkungan yang bersih.

“Kita tahu, saat musim kemarau di Januari sampe Maret banyak pohon – pohon yang kering. Saya sudah sempat cemas itu akan membuat kita gagal dapat Adipura. Tetapi ternyata, kegiatan kita bersama di hari Jumat bersih dan penanaman pohon yang selama ini gencar kita lakukan membuahkan hasil,” urainya.
Kendati begitu, Neni menegaskan jika Adipura yang kita raih bukanlah tujuan utama dalam mengkampanyekan kebersihan dan peduli terhadap lingkungan.

“Yang paling penting bukan soal pialanya. Tapi dengan penghargaan ini kita harus lebih berperan aktif dalam menjaga lingkungan. Bagaimana bersahabat dengan alam. Itu cita cita dari ending ini. Kalau piala itu kita anggap bonus,” paparnya.

Penghargaan Adipura Kirana ini memang cukup membanggakan. Selain mewujudkan Bontang sebagai kota bersih, pemanfaatan sampah menjadi barang yang bernilai memiliki catatan manis tersendiri di pemerintah. Selain bersih, Bontang dianggap mampu mengelolah sampah menjadi gas methan. Wali Kota optimistis, diraihnya Adipura Kirana tahun ini menjadi pemantik semangat Pemerintah Kota (Pemkot) Bontang serta masyarakat menjaga kebersihan, agar dapat membawa pulang Adipura Paripurna. Apalagi, kehadiran ecotourism di kota gas dan kondensat ini diyakini bakal menjadi nilai tambah dalam penilaian kota/kabupaten bersih selanjutnya.

“Kita harus optimistis, tahun depan kita akan mendapatkan piala Adipura Paripurna. Dengan di-launching-­nya ecotourism beberapa waktu lalu, dapat membuktikan keseriusan Pemkot meningkatkan taraf perekonomian masyarakat. Apalagi, beberapa program wisata kita cukup banyak melibatkan masyarakat. Seperti, bank sampah dan program sampah yang dijadian gas metan,” tandasnya.

Untuk diketahui, Adipura Kirana diberikan kepada kabupaten/kota dengan melihat pertumbuhan ekonominya melalui trade, tourism, dan investasi yang berbasis pengelolaan lingkungan hidup. Sedangkan Adipura Buana, untuk kabupaten/kota yang menggabungkan unsur sosial dengan lingkungan, membentuk kota layak huni.

Sedangkan Adiwiyata adalah program Kementrian Lingkungan dan Kehutanan yang mendorong terciptanya pengetahuan dan kesadaran warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup, dan dikembangkan sejak 2016 dengan beberapa komponen. Yakni kebijakan berwawasan lingkungan, pelaksanaan kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan lingkungan bersifat partisipasif serta pengelolaan sarana pendukung ramah lingkungan.

Dua sekolah di Bontang yakni SD 1 YPK dan SMP Negeri 5 yang berhasil mendapatkan Piala Adiwiyata.
“Dua piala ini didedikasikan untuk seluruh warga Bontang. Kita harus komitmen menjadikan Bontang sebagai kota yang bersih. Perilaku bersih harus mulai kita gaungkan dari usia dini,” jelas Neni.

Bagian Humas-PPID Kota Bontang